NEW EMERGING PEST: THE FALL ARMYWORM

KAJIAN KEPROFESIAN

(Divisi Keprofesian Himpunan Mahasiswa Proteksi Tanaman)

 

Dunia perlindungan tanaman Indonesia saat ini sedang dihebohkan oleh adanya ancaman hama baru jenis ulat grayak dari spesies Spodoptera frugiperda atau dikenal juga dengan sebutan The Fall Armyworm (FAW). Serangga tersebut terkenal sangat berbahaya karena kemampuannya dalam merusak ratusan hektar tanaman hanya dalam waktu semalam. Selain itu FAW juga dikenal memiliki kemampuan migrasi yang cukup tinggi, karena mampu terbang sejauh 1000 kilometer dalam waktu semalam.

Tak lama ini, tepatnya pada Maret 2019 lalu terdapat laporan adanya seranga yang mirip dengan serangga Spodoptera frugiperda secara morfologi di daerah Pasaman Barat dan Lampung yang menyerang pertanaman jagung milik petani. Setelah melewati analisis dan identifikasi, pakar ilmu sekaligus dosen Departemen Proteksi Tanaman IPB yaitu Dra. Dewi Sartiami, M.Si dan tim mengonfirmasi bahwa serangga yang menyerang pertanaman jagung milik petanni tersebut diduga kuat adalah jenis ulat Spodoptera frugierda. Laporan tersebut menginformasikan bahwa saat ini serangga yang dikenal berbahaya ini telah menginvasi lahan pertanian Indonesia.

FAW merupakan serangga asli Amerika Tengah dan Amerika Selatan dan telah dikenal sebagai serangga yang sangat rakus dan berbahaya karena mampu menimbulkan kerusakan pada ratusan hektar tanaman dalam waktu semalam. FAW merupakan serangga yang masuk dalam Famili Noctuidae. Di Indonesia sendiri sebelumnya terdapat beberapa ulat yang mirip dengan FAW, yaitu Spodoptera litura dan Helicoverpa (Heliothis) armigera. FAW diketahui lebih menyukai tanaman jagung daripada tanaman lain, namun dapat menjadi hama serius pada lebih dari 80 tanaman pertanian.

 

Mengenali FAW

FAW dapat dikenali dengan tanda berupa huruf “Y” terbalik di kepalanya. Pada bagian belakang terdapat empat titik seperti membentuk segi empat . Siklus FAW dari 20-40 hari tergantung iklim.

faw

Gambar 1 FAW fase larva instar akhir dengan ciri khas adanya tanda seperti hurf “Y” terbalik pada kepala dan empat titik besar pada bagian dorsal abdomen no 2 dari belakang

 

Bioekologi, Tanda Serangan, dan Identifikasi

FAW meletakkan telur secara berkelompok di bawah permukaan daun, namun terkdang di atas permukaan daun. Kelompok telur sering dilapisi oleh rambut-rambu halus. Adanya kelompok telur merupakan tanda penting dalam mengenali adanya FAW.

faww

Gambar 2 Telur FAW pada jaringan tanaman

Salah satu tanda adanya FAW adalah terdapat bekas makan instar ke-1. Ulat instar ke-1 hanya makan permukaan atas daun. Ulat ini menggunakan benang sutera dean bantuan angin untuk berpencar (ballooning).

fawww

Gambar 3 Larva FAW instar I

Investasi FAW sering baru ketahuan ketika kerusakan tanaman sudah parah dan terdapat banyak lubang pada daun. Selain itu sering ditemukan kelompok kotoran seperti serbuk gergajian kayu. FAW biasanya bersembunyi di bagian bawah dengan ditutupi kotoran untuk menghindari predator.

fawwww

Gambar 4 Gejala serangan FAW pada tanaman jagung

 

Bagaimana FAW sampai di Indonesia?

Banyak yang bertanya-tanya mengenai bagaimana FAW menginvasi lahan pertanian Indonesia pada Maret lalu. Diketahui FAW masuk ke wilayah Asia bermula ketika pada tahun 2016 serangga ini terdeteksi di wilayah Afrika dan banyak menyerang tanaman jagung. Tidak jelas bagaimana FAW ini menyebar ke wilayah Afrika, namun dipercaya serangga tersebut masuk ke Afrika melalui transportasi udara komersil.

Pada tahun 2018, FAW dilaporkan telah menyebar di wilayah India, dan pada awal 2019 dilaporkan kembali telah sampai di Sri Lanka dan Thailand. Di Indonesia sendiri, hingga periode Maret 2019 lalu belum ada laporan secara resmi tentang kejadian serangan FAW ini. Namun, terdapat laporan bahwa di wilayah Pasaman Barat dan Lampung ditemukan serangga yang secara morfologi sangat mirip dengan FAW dan merusak tanaman jagung. Serangga tersebut terduga kuat adalah FAW.

FAW dianggap mengancam keamanan pangan dunia sehingga badan PBB, Food and Agriculture Organization (FAO) mengeluarkan baget untuk mobilisasi pengendalian FAW sebesar USD 12.000.000. Bagi Indonesia, FAW berpotensi dapat menjadi salah satu ancaman terhadap ketahanan pangan nasional. Di sisi lain, serangga tersebut bukan termasuk dalam daftar OPTK berdasarkan Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) No. 31/Permentan/KR.010/7/2018.

 

Bagaimana upaya pengendalian FAW?  Nantikan kajian keprofesian selanjutnya… :’)

 

Bahan bacaan:

Diedrich Visser. 2017. Fall armyworm: An identification guide in relation to other common caterpillars, a South African perspective. Agricultural Research Council – Vegetable and Ornamental Plants (ARC-VOP), Roodeplaat, Pretoria.

FAO Briefing note on FAO actions on Fall Armyworm. FAO, December 2018.

FAO. Briefing note on FAO actions on Fall Armyworm. FAO, March 2018.

Goergen, G. , P. L. Kumar, S.B. Sankung, A. Togola, M. Tamò. 2016. First Report of Outbreaks of the Fall Armyworm Spodoptera frugiperda (J E Smith) (Lepidoptera, Noctuidae), a New Alien Invasive Pest in West and Central Africa. PLOS ONE DOI:10.1371/journal.pone. 0165632

  1. Passoa. 1991. Color identification of economically important Spodoptera larvae in Honduras (Lepidoptera: Noctuidae). Insecta Mundi. Vol. 5, No. 3-4,

UN News. 2018. Fears for food security and the future of farming families, as Fall Armyworm spreads to Asia. https://news.un.org/en/story/2018/08/1016972

 

Narahubung :
M. Darnando. R. R (089636491619)


RH007/VI/23/19
Divisi Keprofesian
Kabinet Refugia
HIMASITA 2018/2019
Instagram : @himasitaipb
Twitter : @himasita_ipb
Facebook : Himasita IPB
OA Line : @ama5091e
himasita.lk.ipb.ac.id
#KitaRefugia
#PTNKeren
#GregariousGrowGoal

Share/Bookmark

2 Comments

  1. Iya terima kasih kakak :)

  2. Egi Surya Kelana

    23 June 2019 at 9:26 pm

    Semoga selalu mengisnpirasi ya ade2 semua, tingkatkan terus kajian keprofesiannya. Insha allah suatu saat jd modal berharga buat semuanya pasca kampus.
    Salam Proteksi Tanaman. Udah mau angkatan 56 aja ya skrg, salam buat taman saodik

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

© 2019 HIMASITA IPB

Theme by Anders NorenUp ↑