Author: HIMASITA (page 1 of 30)

[dr. Tan Info PGPR]

[dr. Tan Info PGPR as Biopesticides]

dr tan pgpr
Holaa protectors!! Tahukah kamu bahwa PGPR (Plant Growth Promoting Rhizobacteria) diprediksi akan menjadi tumpuan pertanian masa depan? Study yang baru-baru ini dilakukan oleh Prasad et al. (2019) membenarkan hal ini. PGPR (Plant Growth Promoting Rhizobacteria) merupakan kelompok bakteri yang dapat secara aktif mengkoloni daerah perakaran dan membantu pertumbuhan tanaman, kesehatan, dan juga kesuburan tanah.
Bakteri yang tergolong PGPR dibagi menjadi beberapa kelompok, yaitu:
1. Biofertilizer, golongan bakteri yang membantu ketersediaan nutrisi potensial bagi tumbuhan. Misalnya bekteri penambat Nitrogen, Rhizobium sp.
2. Phytostimulator, golongan bakteri yang memproduksi atau menambah ketersediaan hormon-hormon dan zat pengatur tumbuh. Misalnya Aeromonas veronii yang menyintesis IAA yang membantu pertumbuhan padi.
3. Biopesticides, golongan bakteri yang dapat mengontrol patogen tumbuhan. Misalnya Azospirillum strains SPS2, WBPS1 dan Z2-7 yang membantu mengontrol patogen penyebab blast pada padi.
4. Bioremidators, golongan bakteri yang mampu mendegradasi logam berat di tanah. Misalnya Serratia sp. SY5 yang dapat meremediasi Cd dan Cu pada tanaman jagung.
Disisi lain PGPR dapat mengkoloni daerah perakaran dan membantu pertumbuhan tanaman, kesehatan, dan juga kesuburan tanah. Salah satu golongan PGPR adalah bakteri yang berperan sebagai biopestisida. Biopestisida merupakan golongan makhluk hidup yang dapat mengendaikan hama dan patogen penyebab penyakit tumbuhan. Mekanisme jenis bakteri sebagai biopestisida antara lain:
• Mekanisme langsung dengan memproduksi antibiotik, siderepore, HCN, dan enzim hidrolitik (kitinase, protease, lipase).
• Mekanisme tak langsung dengan bertindak sebagai probiotik yang berkompetisi dengan patogen dalam ruang hidup, nutrisi dan sebagainya.
Peran PGPR sebagai biopestisida ini diprediksi akan sangat dibutuhkan dalam pertanian masa depan yang mengedepankan keberlajutan (sustainable agriculture) tentu saja riset lebih lanjut masih dilakukan agar penerapannya maksimal.

Sumber: Prasad M, Srinivasan R, Chaudhary M, Jat LK. 2019.Plant growth promoting rhizobacteria (pgpr) for sustainable agriculture: perspectives and challenges: Elsevier Inc.

Share/Bookmark

[dr. Tan Info is Coming]

Hola Protectotrs !!

Have you ever heard “Global Insect Decline “Threaten Collapse of Nature”” ? Judul tersebut digunakan beberapa media besar dunia untuk menggambarkan kekhwatiran akan semakin menurunnya jumlah serangga di alam. Study terbaru yang dipimpin oleh Francisco Sánchez-Bayo yang dipublikasi dalam Jurnal Biological Conservation menyatakan bahwa sebanyak 40% serangga terancam punah dalam beberapa dekade ini. Serangga tersebut paling banyak merupakan anggota dari Lepidoptera, Hymenoptera, dung beetles (Coleoptera), Odonata, Plecoptera, Trichoptera dan Ephemeroptera. Disisi lain para peneliti juga menemukan adanya kecenderungan beberapa serangga seperti kecoa dan lalat rumah mengalamin kelimpahan populasi dalam beberapa tahun ke depan. Sánchez-Bayo menyatakan penyebab semakin menurunnya populasi serangga adalah campur tangan manusia, dalam pemakaian insektisida, urbanisasi, deforesasi, dan global warming. Namun beberapa serangga rumah seperti lalat rumah dan kecoa menurut peneliti lain Prof Dave Goulson justru beradatasi dengan ilkim yang lebih hangat, yang tidak cocok bagi musuh alaminya. Pemakaian intensif insektisida juga menyebabkan kedua serangga rumah ini lebih resisten.
Kira-kira angkatan PTN 80-an masih mengoleksi serangga tidak ya protectors?

Jadi kalau cari serangga yang bijak yaa..

Sumber :
Sánchez-Bayo, Kris A.G. Wyckhuys. 2019. Worldwide decline of the entomofauna: A review of its drivers. Biological Conservation 232 (2019) 8–27
www.bbc.com/Global iseect decllines may see ‘plague of pest’
www.theguardian.com/Plummeting insect number ‘threaten collapse of nature’

Narahubung :
Athena Ilda
0895340055711
___________
RF039/VlII/4/19
Divisi Informasi, Komunikasi, dan Jurnalistik
Kabinet Refugia
HIMASITA 2018/2019
Instagram : @himasitaipb
Twitter : @himasita_ipb
Facebook : Himasita IPB
OA Line : @ama5091e
himasita.lk.ipb.ac.id
#KitaRefugia
#PTNKeren
#GregariousGrowGoal
#dr.TanInfo
#PreventionIsBetterThanCure

NEW EMERGING PEST: THE FALL ARMYWORM

KAJIAN KEPROFESIAN

(Divisi Keprofesian Himpunan Mahasiswa Proteksi Tanaman)

 

Dunia perlindungan tanaman Indonesia saat ini sedang dihebohkan oleh adanya ancaman hama baru jenis ulat grayak dari spesies Spodoptera frugiperda atau dikenal juga dengan sebutan The Fall Armyworm (FAW). Serangga tersebut terkenal sangat berbahaya karena kemampuannya dalam merusak ratusan hektar tanaman hanya dalam waktu semalam. Selain itu FAW juga dikenal memiliki kemampuan migrasi yang cukup tinggi, karena mampu terbang sejauh 1000 kilometer dalam waktu semalam.

Tak lama ini, tepatnya pada Maret 2019 lalu terdapat laporan adanya seranga yang mirip dengan serangga Spodoptera frugiperda secara morfologi di daerah Pasaman Barat dan Lampung yang menyerang pertanaman jagung milik petani. Setelah melewati analisis dan identifikasi, pakar ilmu sekaligus dosen Departemen Proteksi Tanaman IPB yaitu Dra. Dewi Sartiami, M.Si dan tim mengonfirmasi bahwa serangga yang menyerang pertanaman jagung milik petanni tersebut diduga kuat adalah jenis ulat Spodoptera frugierda. Laporan tersebut menginformasikan bahwa saat ini serangga yang dikenal berbahaya ini telah menginvasi lahan pertanian Indonesia.

FAW merupakan serangga asli Amerika Tengah dan Amerika Selatan dan telah dikenal sebagai serangga yang sangat rakus dan berbahaya karena mampu menimbulkan kerusakan pada ratusan hektar tanaman dalam waktu semalam. FAW merupakan serangga yang masuk dalam Famili Noctuidae. Di Indonesia sendiri sebelumnya terdapat beberapa ulat yang mirip dengan FAW, yaitu Spodoptera litura dan Helicoverpa (Heliothis) armigera. FAW diketahui lebih menyukai tanaman jagung daripada tanaman lain, namun dapat menjadi hama serius pada lebih dari 80 tanaman pertanian.

 

Mengenali FAW

FAW dapat dikenali dengan tanda berupa huruf “Y” terbalik di kepalanya. Pada bagian belakang terdapat empat titik seperti membentuk segi empat . Siklus FAW dari 20-40 hari tergantung iklim.

faw

Gambar 1 FAW fase larva instar akhir dengan ciri khas adanya tanda seperti hurf “Y” terbalik pada kepala dan empat titik besar pada bagian dorsal abdomen no 2 dari belakang

 

Bioekologi, Tanda Serangan, dan Identifikasi

FAW meletakkan telur secara berkelompok di bawah permukaan daun, namun terkdang di atas permukaan daun. Kelompok telur sering dilapisi oleh rambut-rambu halus. Adanya kelompok telur merupakan tanda penting dalam mengenali adanya FAW.

faww

Gambar 2 Telur FAW pada jaringan tanaman

Salah satu tanda adanya FAW adalah terdapat bekas makan instar ke-1. Ulat instar ke-1 hanya makan permukaan atas daun. Ulat ini menggunakan benang sutera dean bantuan angin untuk berpencar (ballooning).

fawww

Gambar 3 Larva FAW instar I

Investasi FAW sering baru ketahuan ketika kerusakan tanaman sudah parah dan terdapat banyak lubang pada daun. Selain itu sering ditemukan kelompok kotoran seperti serbuk gergajian kayu. FAW biasanya bersembunyi di bagian bawah dengan ditutupi kotoran untuk menghindari predator.

fawwww

Gambar 4 Gejala serangan FAW pada tanaman jagung

 

Bagaimana FAW sampai di Indonesia?

Banyak yang bertanya-tanya mengenai bagaimana FAW menginvasi lahan pertanian Indonesia pada Maret lalu. Diketahui FAW masuk ke wilayah Asia bermula ketika pada tahun 2016 serangga ini terdeteksi di wilayah Afrika dan banyak menyerang tanaman jagung. Tidak jelas bagaimana FAW ini menyebar ke wilayah Afrika, namun dipercaya serangga tersebut masuk ke Afrika melalui transportasi udara komersil.

Pada tahun 2018, FAW dilaporkan telah menyebar di wilayah India, dan pada awal 2019 dilaporkan kembali telah sampai di Sri Lanka dan Thailand. Di Indonesia sendiri, hingga periode Maret 2019 lalu belum ada laporan secara resmi tentang kejadian serangan FAW ini. Namun, terdapat laporan bahwa di wilayah Pasaman Barat dan Lampung ditemukan serangga yang secara morfologi sangat mirip dengan FAW dan merusak tanaman jagung. Serangga tersebut terduga kuat adalah FAW.

FAW dianggap mengancam keamanan pangan dunia sehingga badan PBB, Food and Agriculture Organization (FAO) mengeluarkan baget untuk mobilisasi pengendalian FAW sebesar USD 12.000.000. Bagi Indonesia, FAW berpotensi dapat menjadi salah satu ancaman terhadap ketahanan pangan nasional. Di sisi lain, serangga tersebut bukan termasuk dalam daftar OPTK berdasarkan Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) No. 31/Permentan/KR.010/7/2018.

 

Bagaimana upaya pengendalian FAW?  Nantikan kajian keprofesian selanjutnya… :’)

 

Bahan bacaan:

Diedrich Visser. 2017. Fall armyworm: An identification guide in relation to other common caterpillars, a South African perspective. Agricultural Research Council – Vegetable and Ornamental Plants (ARC-VOP), Roodeplaat, Pretoria.

FAO Briefing note on FAO actions on Fall Armyworm. FAO, December 2018.

FAO. Briefing note on FAO actions on Fall Armyworm. FAO, March 2018.

Goergen, G. , P. L. Kumar, S.B. Sankung, A. Togola, M. Tamò. 2016. First Report of Outbreaks of the Fall Armyworm Spodoptera frugiperda (J E Smith) (Lepidoptera, Noctuidae), a New Alien Invasive Pest in West and Central Africa. PLOS ONE DOI:10.1371/journal.pone. 0165632

  1. Passoa. 1991. Color identification of economically important Spodoptera larvae in Honduras (Lepidoptera: Noctuidae). Insecta Mundi. Vol. 5, No. 3-4,

UN News. 2018. Fears for food security and the future of farming families, as Fall Armyworm spreads to Asia. https://news.un.org/en/story/2018/08/1016972

 

Narahubung :
M. Darnando. R. R (089636491619)


RH007/VI/23/19
Divisi Keprofesian
Kabinet Refugia
HIMASITA 2018/2019
Instagram : @himasitaipb
Twitter : @himasita_ipb
Facebook : Himasita IPB
OA Line : @ama5091e
himasita.lk.ipb.ac.id
#KitaRefugia
#PTNKeren
#GregariousGrowGoal

[MONITORING DAN EVALUASI INTERNAL IPB PKM DIDANAI]

Selamat Pagi Protectors!

Selamat bagi kamu yang telah lolos PKM didanai. Tetap semangat karena sebentar lagi akan diadakan Monitoring dan Evaluasi Internal IPB pada tanggal 15-16 Juni 2019. Semoga lancar dan sukses selalu.

“Tahukah kalau masih ada kesempatan untukmu? Karena masih ada percikan api di dalammu. Kau hanya perlu menyalakannya, dan membiarkannya bersinar.”
-Katy Perry, Firework-

Selamat berjuang!
Narahubung :
Pahmi Idris (082321255209)
_____________________________
RD015/VI/12/19
Divisi Akademik dan Prestasi
Kabinet Refugia
HIMASITA 2018/2019
Instagram : @himasitaipb
Twitter : @himasita_ipb
Facebook : Himasita IPB
OA Line : @ama5091e
himasita.lk.ipb.ac.id
#KitaRefugia
#PTNKeren
#GregariousGrowGoal

[DIRGAHAYU HMPTI KE-31]

Setiap tanggal 7 Juni diperingati sebagai hari jadi Himpunan Mahasiswa Perlindungan Tanaman Indonesia (HMPTI). Keluarga Besar Himpunan Proteksi Tanaman IPB mengucapkan Dirgahayu HMPTI Ke-31. Maju terus HMPTI, semoga selalu bersinergi bersama untuk membangun masa depan Pertanian Indonesia.

Salam Proteksi! Jayalah HMPTI!!!

Terima kasih.
Narahubung :
Athena Ilda (0895340055711)
_____________________________
RF029/Vl/7/19
Divisi Informasi, Komunikasi, dan Jurnalistik
Kabinet Refugia
HIMASITA 2018/2019
Instagram : @himasitaipb
Twitter : @himasita_ipb
Facebook : Himasita IPB
OA Line : @ama5091e
himasita.lk.ipb.ac.id
#KitaRefugia
#PTNKeren
#GregariousGrowGoal

Older posts

© 2019 HIMASITA IPB

Theme by Anders NorenUp ↑