Category: IPB (Page 1 of 26)

PRESS RELEASE SEMINAR PRESTASI

[Tetap Produktif Berprestasi di Tengah Pandemi : HIMASITA IPB Menggelar Seminar Prestasi]

Himpunan Mahasiswa Proteksi Tanaman (HIMASITA) IPB menggelar kegiatan Seminar Prestasi dengan tema Challenge Yourself : Being Productive During Pandemic. Kegitan ini merupakan program kerja Divisi Akademik dan Prestasi HIMASITA, Seminar Prestasi diselenggarakan pada hari Minggu, 7 Maret 2021 yang dihadiri oleh  59 orang  mahasiswa IPB University.

Pembicara yang hadir dalam kegiatan Seminar Prestasi dengan tema Challenge Yourself : Being Productive During Pandemic yaitu Rani Novita dan M. Samsul Maarif. Rani Novita merupakan mahasiswa Peraih IPK Terbaik se-Proteksi Tanaman angkatan 54 dan M. Samsul Maarif yang merupakan Mahasiswa Berprestasi Fakultas Pertanian 2021.

Kegiatan dibuka dengan meriah oleh MC yaitu Tri Nursyanti Fitri mahasiswa PTN 55 dan Dian Reno Sulihono mahasiswa PTN 56 kemudian dilanjutkan Pembacaan Tilawah oleh Dede Nasrudin mahasiswa PTN 55 selanjutnya Sambutan oleh Rizal Ramadhan selaku Ketua Himpunan Mahasiswa Proteksi Tanaman kemudian Sambutan oleh Bapak Bonjok Istiaji, S.P., M.Si selaku Ketua Komisi Kemahasiswaan dan Disiplin Departemen Proteksi Tanaman serta Ibu Dewi Sartiami, M.Si selaku Sekretaris Departemen Proteksi Tanaman. Acara dilanjutkan oleh Moderator yaitu Fatimatuzzahroh mahasiswa Proteksi Tanaman angkatan 55. Acara pertama dimulai dengan pemaparan materi oleh M. Samsul Maarif mengenai pandangan dan sikap terhadap kegiatan yang dapat dilakukan di masa pandemi serta motivasi untuk tetap semangat mengikuti berbagai kegiatan non-akademik. Pandemi mengubah hidup kita, kenapa? Karena kita memiliki keresahan. Salah satu hal yang dapat dilakukan dengan mewujudkannya menjadi sebuah kegiatan misal Agriculture and Ecologist National Comptetition yang pertama kali kami dan tim selenggarakan. Keluar dari zona nyaman adalah salah satunya, memulai mencoba mengikuti lomba misalnya. Kenapa berani ambil peran? Karena saat ini kita telah memasuki era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, and Ambiguity). Era  dimana ada banyak hal semakin bergejolak menjadi lebih kompleks, ketidapastian, permasalahan yang beragam karena teknologi yang semakin berkembang, dan sulitnya membedakan mana yang benar dan salah. Misal nya pekerja dan Start Up yang berbeda penanganannya. Cara untuk menyelesaikan permasalahan akan menjadi sangat beragam sehingga kita membutuhkan kompetisi yang dapat memunculkan kemampuan berpikir kritis, memecahkan masalah yang kompleks, mampu bekerja sama dengan orang lain, dan dapat bernegosiasi dengan orang lain. Sikap empati dan Critical thinking saat memahami suatu permasalahan dapat merumuskan cara penanganan yang tepat. Membangun growth mindset dengan cara mengalahkan ketakutan dengan menghadapi masalah. Menemukan role model yang sesuai dengan diri kita dan buat support system  yang sesuai dengan pribadi kamu. Diakhir pemaparannya, beliau menyampaikan bahwa “Bukan Tentang Seberapa Banyak Waktumu Terpakai, Namun Seberapa Besar Kebermanfaatan Yang Kamu Berikan”.

Acara kedua dilanjutkan pemaparan materi oleh Rani Novita  mengenai menjadi produktif di masa pandemi. Pandemi Covid-19 membawa tiga arti penting dalam hidup yaitu sehat, produktif untuk akademik, dan saling terkoneksi. Hal produktif yang dapat dilakukan yaitu mengikuti lomba, summer course, mengikuti kursus, menjadi tutor, bergabung di asistensi. Kurangi hal-hal yang mengahambat kamu atau menyita waktu kamu. Tips sukses akademik yaitu Realistically plan your time, read actively, maximize your memory potential, take test wisely, dan understand your stress. Pada akhir sesi beliau menyampaiakan bahwa Everyone has their own style of learning, Everyone solves problem in their own way, There is no right or wrong approach. Selanjutnya sesi tanya jawab yang membahas mengenai bagaimana menghadapi rasa lelah saat belajar dan berorganisasi kemudian bagaimana kita mulai berani menulis sebuah karya.

Menurut Samsul Maarif bahwa kita harus ubah mindset bahwa yang kita lakukan bukanlah beban namun sebuah amanah. Menurut Rani Novita kita memulai menulis dari hal-hal yang kita lakukan setiap harinya, selain itu buat kelompok kecil yang saling mendukung dan terhubung untuk menjadikan dirikita lebih produktif misalnya dengan belajar speaking inggris secara rutin. Setelah sesi tanya jawab kemudian didapatkan kesimpulan yang di sampaikan oleh moderator bahwa berorganisasi bukan sebuah beban, melainkan amanah maka ubah midset diri menjadi amanah. Tidak ada salahnya keluar dari zona nyaman, karena banyak peluang dapat menjadi kenyataan. Contohnya ketika memulai suatu project dapat memperoleh berbagai cara untuk menyelesaikan masalah dalam suatu tim. Cara mengalahkan ketakutan hanya ada satu cara yaitu Hadapi. Memiliki role model sangat penting untuk menuntun arah, mempertahankan semangat, dan memiliki supporting system. Setelah sesi tanya jawab kemudian dilanjutkan dengan penyerahan oleh-oleh kepada kedua pembicara dan dokumentasi seluruh peserta yang hadir. Acara ditutup dengan pembacaan doa yang disampaikan oleh Jeffriansyah mahasiswa PTN 56 dan diakhiri salam oleh MC.

Kegiatan Webinar Seminar Prestasi dengan tema Challenge Yor Self : Being Productive During Pandemic mendapatkan respon baik dari peserta. Peserta terlihat antusias selama mengikuti kegiatan webinar. Melalui kegiatan Webinar Seminar Prestasi dengan tema Challenge Yor Self : Being Productive During Pandemic kami berharap peserta dapat meningkatkan rasa percaya diri serta berani mengambil resiko untuk mengembangkan diri dan menambah wawasan terkait kegiatan yang dapat dilakukan selama masa pandemi covid-19 ini.

        

Narahubung :
Zhafarina Syadzwina (081219894911)
____________________________
B.I/0018/07/III/2021
Biro Informasi Komunikasi dan Jurnalistik
HIMASITA 2020/2021
Kabinet Kenang Kunang

#GregariousGrowAndGoals
#PTNKeren
#IPBUniversity
#UntukHIMASITA
#KabinetKenangKunang

PRESS RELEASE KAJIAN KEPROFESIAN 2021

Himpunan Mahasiswa Proteksi Tanaman (HIMASITA) IPB menggelar kegiatan Kajian Keprofesian 1 dengan tema Puncak Serangan Wereng Batang Coklat (Nilaparvata lugens) 2021. Kegitan ini merupakan program kerja Divisi Keprofesian HIMASITA dan diselenggarakan sebanyak dua kali, Kajian Keprofesian 1 diselenggarakan pada hari Sabtu, 27 Maret 2021 yang dihadiri oleh  99 orang  mahasiswa IPB University, 27 orang mahasiswa Universitas Sriwijaya, 8 orang mahasiswa Universitas Lampung, 1 orang mahasiswa Universitas Hasanuddin, 1 orang dari Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan dan 11 orang dari Umum.

Pembicara yang hadir dalam kegiatan Kajian Keprofesian 1 :  Puncak Serangan Wereng Batang Coklat (Nilaparvata lugens) 2021 yaitu Dr. Ir. Hermanu Triwidodo, M. Sc, Anik Wiati S.P., dan Bayu Aji Krisandi. Dr. Ir. Hermanu Triwidodo Beliau merupakan Dosen Ahli Hama WBC Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanain, IPB University. Anik Wiati S.P. merupakan alumni Proteksi Tanaman angkatan 48 dan Praktisi lapangan. Bayu Aji Krisandi merupakan mahasiswa Proteksi Tanaman angkatan 53 dan Menteri Koordinator Bidang Pelayanan dan Pengadian BEM KM IPB tahun 2019/2020.

Kegiatan dibuka dengan meriah oleh MC yaitu Sri Roro Aminah Adiningtyas mahasiswa PTN 55 dan Richo Deo Arizona mahasiswa PTN 56 kemudian dilanjutkan Pembacaan Tilawah oleh Vito Montana mahasiswa PTN 56 selanjutnya menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Hymne IPB. Penyampaian Laporan Ketua Himasita dilanjutkan Sambutan oleh Bapak Dr. Ir. Ali Nurmansyah, M.Si selaku Ketua Departemen Proteksi Tanaman IPB kemudian Pemaparan Kegiatan oleh divisi Keprofesian. Acara dilanjutkan oleh Moderator yaitu Pahmi Idris mahasiswa Proteksi Tanaman angkatan 54. Acara pertama dimulai dengan pemaparan materi oleh Ibu Anik Wiati, S.P mengenai Ancaman WBC pada Penurunan Produktivitas Tanaman Padi di Daerah Tuban. Beliau menyampaikan bahwa pada awal tahun 2021 di daerahnya yaitu kecamatan Senori kabupaten Tuban, dihebohkan oleh serangan wereng batang coklat yang terjadi di bulan Januari – Februari, kenapa bisa heboh ? Hal ini dikarenakan padi yang terserang usianya mencapai  90 HST. Padi sudah mulai mengisi dan petani tinggal memanen, akan tetapi padi mengalami gejala seperti terbakar, layu, berwarna coklat, dan kering. Petani hanya membiarkan dan tidak melakukan pengendalian karena tanaman sudah tua. Dari beberapa gambar yang telah diamati, ada 4 poin yang dapat disimpulkan yaitu 1) gejala WBC terberat  terjadi pada padi jenis ketan 2) serangan WBC didaerah saya hanya terjadi pada sawah tipe tadah hujan 3) serangan wbc hanya terjadi pada padi yang ditanam lebih awal 4) Di petakan saya sendiri dengan tipe sawah tadah hujan, tapi tidak terjadi serangan wbc karena dari awal seperti perlakuan benih menggunakan PGPR, yang kedua pemeraman kami berikan Lecafit, setelah itu dipersemaian kami tetap semprot dengan Lecafit dan Beuveria sp. yang berfungsi untuk menjaga kesehatan tanaman. Diakhir sesi beliau berharap dapat mendapatkan solusi untuk mengatasi hama WBC.

Acara kedua dilanjutkan pemaparan materi oleh Bayu Aji Krisandi dengan pembahasan Ancaman WBC pada penurunan produktivitas di daerah Tuban. eliau sebagai pemantik dalam Kajian Keprofesian 1 membahas mengenai tragedi serangan hama wereng di Desa Purwabakti, Kabupaten Bogor dan mempresentasikan kondisi serangan di lapang dan berdasarkan hasil pengamatan dilapang varietas tier kebo merupakan varietas yang disukai oleh WBC di bandingkan dengan varietas Inpari 30. Hal ini diduga karena adanya kondisi lingkungan didaerah persawahan yang mendukung perkembangan serangan wereng batang cokelat. Beliau menjelaskan tentang ancaman WBC pada penurunan produktivitas tanaman padi di daerah Bogor. Acara ketiga pemaparan materi mengenai Pencegahan dan Antisipasi Serangan Hama WBC pada Tanaman Padi. Pak Hermanu membuka dengan pesan beliau bahwa Lalai Blai Sembara Cilaka (Lupa membawa bencana gegabah menuai musibah). Ledakan hama wereng batang coklat meningkat apabila pengendalian yang dilakukan di lapangan banyak menggunakan pestisida sintetik, pencegahan hama wereng yang di rekomendasikan oleh pak hermanu yaitu mengembalikan jerami ke sawah, menghindari penggunaan pestisida, tidak menanam varietas yang berasal dari mancanegara karena tidak tahan terhadap hama dan penyakit  tanaman di Indonesia. Pemaparan materi di lanjutkan dengan membahas prediksi serangan wereng batang coklat dan di lanjutkan dengan diskusi aktif oleh peserta. Pertanyaan pertama membahas mengenai hama Wereng Batang Cokelat yang dapat diidentifikasi dengan sidik jari molekuler karena kemungkinan telah membentuk suku-suku di daerah yang berbeda. Kejadian serangan WBC ini terjadi di awal tahun 2021 sehingga petani kaget atas terjadinya fenomena ini. Pertanyaan kedua membahas bahwa hama WBC ini dalam beberapa saat bisa saja hilang. Hilangnya hama WBC dapat disebabkan terbang berpindah ke daerah lain mencari sumber makanan baru yaitu padi stadia vegetative karena serangga ini dapat terbang hingga sejauh 30 km namun juga sering terbawa angin. Cara mengindari hama wereng dengan menerapkan jarak tanam 30 menjadi 40. Pertanyaan ketiga disebutkan oleh Ibu Siti Herlinda bahwa di daerah Rawalebak tidak pernah terserang hama WBC hal ini karena kurang mampunya petani untuk membeli insektisida sintetik sehingga potensi ledakan hama cenderung tidak ada, berbeda dengan di daerah Banyuasin dengan penggunaan insektisida sintetik dengan intensitas tinggi malah membuat predator dan musuk alami yang mati. Pertanyaan keempat dibahas oleh Bapak Ali Nurmansyah bahwa untuk membangun early system warning membutuhkan data beberapa waktu sebelumnya. Harus diamati populasi WBC, varietas padi, kondisi lingkungan (suhu dan kelembaban), keadaan musuh alami, lingkungan di sekitar pertanaman padi, jarak tanaman dan intensitas penyemprotan insektsida. Hal tersebut dapat membantu prediksi hama dan tingkat serangannya. Data serangan harus dilengkapi dengan luas serangan. Sehingga untuk membangun early system warning belum cukup bisa karena data tidak lengkap. Sehingga diharapkan mahasiswa dapat mencatat data selengkap mungkin. Setelah sesi tanya jawab kemudian didapatkan kesimpulan yang di sampaikan oleh moderator bahwa serangan wereng batang coklat semakin ganas. Varietas yang digunakan dan sistem aliran irigasi mempengaruhi tingkat serangan wereng batang coklat. Padi yang diserang oleh wereng batang coklat umumnya berunur 50 HST. Pemberian insektisida secara tidak cerdas dapat membantu perkembangan wereng batang coklat menjadi lebih pesat bahkan menjadi momok menakutkan bagi para petani. Setelah sesi tanya jawab kemudian dilanjutkan dengan penyerahan sertifikat kepada pembicara dan dokumentasi seluruh peserta yang hadir. Acara ditutup dengan pembacaan tilawah yang disampaikan oleh Rizki Setiawan mahasiswa PTN 56 dan diakhiri salam oleh MC.

Kegiatan Webinar Kajian Kerofesian 1 : Puncak Serangan Wereng Batang Coklat (Nilaparvata lugens) 2021  mendapatkan respon baik dari peserta. Peserta terlihat antusias selama mengikuti kegiatan webinar. Melalui kegiatan Webinar Kajian Kerofesian 1 : Puncak Serangan Wereng Batang Coklat (Nilaparvata lugens) 2021  kami berharap peserta dapat meningkatkan pemahaman dan kepedulian terhadap pentingnya kesehatan tanaman, meningkatkan pengetahuan mengenai upaya pencegahan penyakit yang harus dilakukan secara tepat dan berkelanjutan dari aspek pertanian dan aspek ekonomi, dan dapat menjadi wadah untuk menyalurkan ide dan pemikiran akan pentingnya kesehatan tanaman di Indonesia dan pencegahan penyebaran hama dan penyakit tanaman melalui globalisasi perdagangan.

Terimakasih

Narahubung :
Zhafarina Syadzwina (081219894911)
_____________________________
B.1/0015/28/II/2021
Biro Informasi Komunikasi dan Jurnalistik
HIMASITA 2020/2021
Kabinet Kenang-Kunang

#GregariousGrowAndGoals
#PTNKeren
#IPBUniversity
#UntukHIMASITA
#KabinetKenangKunang
    

   

[dr. Tan Info PGPR]

[dr. Tan Info PGPR as Biopesticides]

dr tan pgpr
Holaa protectors!! Tahukah kamu bahwa PGPR (Plant Growth Promoting Rhizobacteria) diprediksi akan menjadi tumpuan pertanian masa depan? Study yang baru-baru ini dilakukan oleh Prasad et al. (2019) membenarkan hal ini. PGPR (Plant Growth Promoting Rhizobacteria) merupakan kelompok bakteri yang dapat secara aktif mengkoloni daerah perakaran dan membantu pertumbuhan tanaman, kesehatan, dan juga kesuburan tanah.
Bakteri yang tergolong PGPR dibagi menjadi beberapa kelompok, yaitu:
1. Biofertilizer, golongan bakteri yang membantu ketersediaan nutrisi potensial bagi tumbuhan. Misalnya bekteri penambat Nitrogen, Rhizobium sp.
2. Phytostimulator, golongan bakteri yang memproduksi atau menambah ketersediaan hormon-hormon dan zat pengatur tumbuh. Misalnya Aeromonas veronii yang menyintesis IAA yang membantu pertumbuhan padi.
3. Biopesticides, golongan bakteri yang dapat mengontrol patogen tumbuhan. Misalnya Azospirillum strains SPS2, WBPS1 dan Z2-7 yang membantu mengontrol patogen penyebab blast pada padi.
4. Bioremidators, golongan bakteri yang mampu mendegradasi logam berat di tanah. Misalnya Serratia sp. SY5 yang dapat meremediasi Cd dan Cu pada tanaman jagung.
Disisi lain PGPR dapat mengkoloni daerah perakaran dan membantu pertumbuhan tanaman, kesehatan, dan juga kesuburan tanah. Salah satu golongan PGPR adalah bakteri yang berperan sebagai biopestisida. Biopestisida merupakan golongan makhluk hidup yang dapat mengendaikan hama dan patogen penyebab penyakit tumbuhan. Mekanisme jenis bakteri sebagai biopestisida antara lain:
• Mekanisme langsung dengan memproduksi antibiotik, siderepore, HCN, dan enzim hidrolitik (kitinase, protease, lipase).
• Mekanisme tak langsung dengan bertindak sebagai probiotik yang berkompetisi dengan patogen dalam ruang hidup, nutrisi dan sebagainya.
Peran PGPR sebagai biopestisida ini diprediksi akan sangat dibutuhkan dalam pertanian masa depan yang mengedepankan keberlajutan (sustainable agriculture) tentu saja riset lebih lanjut masih dilakukan agar penerapannya maksimal.

Sumber: Prasad M, Srinivasan R, Chaudhary M, Jat LK. 2019.Plant growth promoting rhizobacteria (pgpr) for sustainable agriculture: perspectives and challenges: Elsevier Inc.

[dr. Tan Info is Coming]

Hola Protectotrs !!

Have you ever heard “Global Insect Decline “Threaten Collapse of Nature”” ? Judul tersebut digunakan beberapa media besar dunia untuk menggambarkan kekhwatiran akan semakin menurunnya jumlah serangga di alam. Study terbaru yang dipimpin oleh Francisco Sánchez-Bayo yang dipublikasi dalam Jurnal Biological Conservation menyatakan bahwa sebanyak 40% serangga terancam punah dalam beberapa dekade ini. Serangga tersebut paling banyak merupakan anggota dari Lepidoptera, Hymenoptera, dung beetles (Coleoptera), Odonata, Plecoptera, Trichoptera dan Ephemeroptera. Disisi lain para peneliti juga menemukan adanya kecenderungan beberapa serangga seperti kecoa dan lalat rumah mengalamin kelimpahan populasi dalam beberapa tahun ke depan. Sánchez-Bayo menyatakan penyebab semakin menurunnya populasi serangga adalah campur tangan manusia, dalam pemakaian insektisida, urbanisasi, deforesasi, dan global warming. Namun beberapa serangga rumah seperti lalat rumah dan kecoa menurut peneliti lain Prof Dave Goulson justru beradatasi dengan ilkim yang lebih hangat, yang tidak cocok bagi musuh alaminya. Pemakaian intensif insektisida juga menyebabkan kedua serangga rumah ini lebih resisten.
Kira-kira angkatan PTN 80-an masih mengoleksi serangga tidak ya protectors?

Jadi kalau cari serangga yang bijak yaa..

Sumber :
Sánchez-Bayo, Kris A.G. Wyckhuys. 2019. Worldwide decline of the entomofauna: A review of its drivers. Biological Conservation 232 (2019) 8–27
www.bbc.com/Global iseect decllines may see ‘plague of pest’
www.theguardian.com/Plummeting insect number ‘threaten collapse of nature’

Narahubung :
Athena Ilda
0895340055711
___________
RF039/VlII/4/19
Divisi Informasi, Komunikasi, dan Jurnalistik
Kabinet Refugia
HIMASITA 2018/2019
Instagram : @himasitaipb
Twitter : @himasita_ipb
Facebook : Himasita IPB
OA Line : @ama5091e
himasita.lk.ipb.ac.id
#KitaRefugia
#PTNKeren
#GregariousGrowGoal
#dr.TanInfo
#PreventionIsBetterThanCure

NEW EMERGING PEST: THE FALL ARMYWORM

KAJIAN KEPROFESIAN

(Divisi Keprofesian Himpunan Mahasiswa Proteksi Tanaman)

 

Dunia perlindungan tanaman Indonesia saat ini sedang dihebohkan oleh adanya ancaman hama baru jenis ulat grayak dari spesies Spodoptera frugiperda atau dikenal juga dengan sebutan The Fall Armyworm (FAW). Serangga tersebut terkenal sangat berbahaya karena kemampuannya dalam merusak ratusan hektar tanaman hanya dalam waktu semalam. Selain itu FAW juga dikenal memiliki kemampuan migrasi yang cukup tinggi, karena mampu terbang sejauh 1000 kilometer dalam waktu semalam.

Tak lama ini, tepatnya pada Maret 2019 lalu terdapat laporan adanya seranga yang mirip dengan serangga Spodoptera frugiperda secara morfologi di daerah Pasaman Barat dan Lampung yang menyerang pertanaman jagung milik petani. Setelah melewati analisis dan identifikasi, pakar ilmu sekaligus dosen Departemen Proteksi Tanaman IPB yaitu Dra. Dewi Sartiami, M.Si dan tim mengonfirmasi bahwa serangga yang menyerang pertanaman jagung milik petanni tersebut diduga kuat adalah jenis ulat Spodoptera frugierda. Laporan tersebut menginformasikan bahwa saat ini serangga yang dikenal berbahaya ini telah menginvasi lahan pertanian Indonesia.

FAW merupakan serangga asli Amerika Tengah dan Amerika Selatan dan telah dikenal sebagai serangga yang sangat rakus dan berbahaya karena mampu menimbulkan kerusakan pada ratusan hektar tanaman dalam waktu semalam. FAW merupakan serangga yang masuk dalam Famili Noctuidae. Di Indonesia sendiri sebelumnya terdapat beberapa ulat yang mirip dengan FAW, yaitu Spodoptera litura dan Helicoverpa (Heliothis) armigera. FAW diketahui lebih menyukai tanaman jagung daripada tanaman lain, namun dapat menjadi hama serius pada lebih dari 80 tanaman pertanian.

 

Mengenali FAW

FAW dapat dikenali dengan tanda berupa huruf “Y” terbalik di kepalanya. Pada bagian belakang terdapat empat titik seperti membentuk segi empat . Siklus FAW dari 20-40 hari tergantung iklim.

faw

Gambar 1 FAW fase larva instar akhir dengan ciri khas adanya tanda seperti hurf “Y” terbalik pada kepala dan empat titik besar pada bagian dorsal abdomen no 2 dari belakang

 

Bioekologi, Tanda Serangan, dan Identifikasi

FAW meletakkan telur secara berkelompok di bawah permukaan daun, namun terkdang di atas permukaan daun. Kelompok telur sering dilapisi oleh rambut-rambu halus. Adanya kelompok telur merupakan tanda penting dalam mengenali adanya FAW.

faww

Gambar 2 Telur FAW pada jaringan tanaman

Salah satu tanda adanya FAW adalah terdapat bekas makan instar ke-1. Ulat instar ke-1 hanya makan permukaan atas daun. Ulat ini menggunakan benang sutera dean bantuan angin untuk berpencar (ballooning).

fawww

Gambar 3 Larva FAW instar I

Investasi FAW sering baru ketahuan ketika kerusakan tanaman sudah parah dan terdapat banyak lubang pada daun. Selain itu sering ditemukan kelompok kotoran seperti serbuk gergajian kayu. FAW biasanya bersembunyi di bagian bawah dengan ditutupi kotoran untuk menghindari predator.

fawwww

Gambar 4 Gejala serangan FAW pada tanaman jagung

 

Bagaimana FAW sampai di Indonesia?

Banyak yang bertanya-tanya mengenai bagaimana FAW menginvasi lahan pertanian Indonesia pada Maret lalu. Diketahui FAW masuk ke wilayah Asia bermula ketika pada tahun 2016 serangga ini terdeteksi di wilayah Afrika dan banyak menyerang tanaman jagung. Tidak jelas bagaimana FAW ini menyebar ke wilayah Afrika, namun dipercaya serangga tersebut masuk ke Afrika melalui transportasi udara komersil.

Pada tahun 2018, FAW dilaporkan telah menyebar di wilayah India, dan pada awal 2019 dilaporkan kembali telah sampai di Sri Lanka dan Thailand. Di Indonesia sendiri, hingga periode Maret 2019 lalu belum ada laporan secara resmi tentang kejadian serangan FAW ini. Namun, terdapat laporan bahwa di wilayah Pasaman Barat dan Lampung ditemukan serangga yang secara morfologi sangat mirip dengan FAW dan merusak tanaman jagung. Serangga tersebut terduga kuat adalah FAW.

FAW dianggap mengancam keamanan pangan dunia sehingga badan PBB, Food and Agriculture Organization (FAO) mengeluarkan baget untuk mobilisasi pengendalian FAW sebesar USD 12.000.000. Bagi Indonesia, FAW berpotensi dapat menjadi salah satu ancaman terhadap ketahanan pangan nasional. Di sisi lain, serangga tersebut bukan termasuk dalam daftar OPTK berdasarkan Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) No. 31/Permentan/KR.010/7/2018.

 

Bagaimana upaya pengendalian FAW?  Nantikan kajian keprofesian selanjutnya… :’)

 

Bahan bacaan:

Diedrich Visser. 2017. Fall armyworm: An identification guide in relation to other common caterpillars, a South African perspective. Agricultural Research Council – Vegetable and Ornamental Plants (ARC-VOP), Roodeplaat, Pretoria.

FAO Briefing note on FAO actions on Fall Armyworm. FAO, December 2018.

FAO. Briefing note on FAO actions on Fall Armyworm. FAO, March 2018.

Goergen, G. , P. L. Kumar, S.B. Sankung, A. Togola, M. Tamò. 2016. First Report of Outbreaks of the Fall Armyworm Spodoptera frugiperda (J E Smith) (Lepidoptera, Noctuidae), a New Alien Invasive Pest in West and Central Africa. PLOS ONE DOI:10.1371/journal.pone. 0165632

  1. Passoa. 1991. Color identification of economically important Spodoptera larvae in Honduras (Lepidoptera: Noctuidae). Insecta Mundi. Vol. 5, No. 3-4,

UN News. 2018. Fears for food security and the future of farming families, as Fall Armyworm spreads to Asia. https://news.un.org/en/story/2018/08/1016972

 

Narahubung :
M. Darnando. R. R (089636491619)


RH007/VI/23/19
Divisi Keprofesian
Kabinet Refugia
HIMASITA 2018/2019
Instagram : @himasitaipb
Twitter : @himasita_ipb
Facebook : Himasita IPB
OA Line : @ama5091e
himasita.lk.ipb.ac.id
#KitaRefugia
#PTNKeren
#GregariousGrowGoal

« Older posts

© 2021 HIMASITA IPB

Theme by Anders NorenUp ↑